Sukun sudah cukup dikenal di Indonesia.  Buahnya yang masih mentah memiliki rasa yang tawar seperti halnya singkong atau talas, dan biasa dijadikan  bahan camilan dengan cara dikukus, digoreng, ataupun direbus. Begitu juga buahnya yang sudah matang, bisa dikonsumsi setelah dimasak dulu dengan cara dikukus. Daun sukun juga sering dimanfaatkan sebagai bahan herbal tradisional. Hal yang belum populer adalah tentang potensi sukun sebagai sumber karbohidrat alternatif, yang bisa menjadi pengganti atau variasi  selain nasi.


Yuk, Berkenalan dengan Sukun!

Sukun adalah tumbuhan yang tergolong jenis pohon berkayu yang dapat tumbuh hingga 30 meter. Daunnya berupa daun tunggal lebar dan besar dengan bentuk menjari. Sepintas, daun sukun mirip dengan daun tanaman kluwih.

 

Buah sukun berbentuk bundar atau lonjong dengan permukaan kulit buah yang kasar. Berat buah bisa mencapai dua kilogram. Buah sukun muda kerap diolah menjadi sayur untuk makanan pendamping nasi, seperti halnya sayur nangka muda. Camilan biasanya diolah dari buah mentah yang sudah tua atau buah sudah masak. Buah sukun masak rasanya manis samar.  

 

Daun sukun biasa diolah menjadi bahan obat herbal tradisional untuk menurunkan kadar kolesterol dan kadar gula darah. Hasil uji laboratorium terhadap daun sukun menunjukkan, di dalamnya terkandung setidaknya beberapa unsur berikut: flavonoid, saponin, tannin, polifenol, kalium, dll.

Getah sukun di Kepulauan Pasifik, seperti ditulis dalam buku, "Buah Leluhur dari Pohon Kehidupan: Memanggil Pulang Sukun ke Nusantara",  biasa digunakan untuk lem, dempul, dan bahkan obat untuk tulang yang terkilir.

Kayu sukun juga bagus untuk kayu bakar dan kayu yang sudah tua bahkan dapat dipakai sebagai bahan mebel. Bisa dikatakan, hampir semua bagian tanaman sukun dapat dimanfaatkan oleh manusia, sehingga nilainya menjadi sangat tinggi. 

 

Sukun sebagai Sumber Karbohidrat Alternatif

Sumber karbohidrat yang sudah umum dikenal masyarakat, berasal dari tumbuhan semusim, misalnya padi, jagung, ubi, singkong, atau talas. Hal itu menyebabkan petani harus terus-terus mengolah tanah pada setiap musim hingga daur tanaman sampai di masa panen. 

Sementara itu, perubahan iklim global akhir-akhir ini sedang perlahan nyata terjadi. Perubahan musim yang tidak menentu  seringkali menyebabkan siklus pertanian terganggu. Curah hujan kadang-kadang sangat tinggi, sehingga menyebabkan tanaman membusuk atau justru kemarau menjadi sangat panjang dan kering, sehingga tanaman pangan kekurangan air. Kedua keadaan itu dapat menyebabkan gagal panen, sehingga pasokan makanan, terutama makanan pokok menjadi terganggu.

Namun, hal tersebut tidak akan terjadi pada tanaman perenial yang berumur panjang, seperti sagu dan sukun, karena tumbuhan ini berbentuk pohon. Petani tidak perlu berulangkali melakukan daur pertanian dalam setahun, karena hanya dengan satu kali menanam, panen bisa dilakukan terus-menerus, selama tumbuhan masih bisa menghasilkan.

Karena bisa tumbuh bertahun-tahun dan berbuah banyak dalam satu musim., sukun merupakan salah satu alternatif sumber karbohidrat yang penting diperhatikan, dan tentu saja penting juga untuk diusahakan ada di setiap daerah. Saat krisis pangan ekstrem suatu hari melanda, sukun dapat diandalkan. 

Selain itu, indeks glikemik buah sukun yang relatif lebih rendah dari nasi juga menjadi sebuah catatan penting bagi mereka yang sedang menjalani diet karbo. 

Kelemahan Sukun 

Beragam keunggulan sukun juga disertai tantangan terhadap kelemahannya. Buah suku tidak bisa disimpan lama. Setelah masak, buah sukun akan menuju fase pembusukan. Oleh karena itu, diperlukan teknik dan bahkan teknologi untuk mengawetkannya.

Secara manual, sukun dapat diawetkan dengan cara dijemur sampai kering, setelah buahnya diiris dan direbus sebentar. Setelah kering, irisan buah sukun dapat diolah kembali saat diperlukan dengan cara dikukus atau direbus. Selain itu, sukun kering juga dapat diolah menjadi tepung.

Saat ini tepung sukun masih mahal harganya, karena faktor ketersediaan produk dan juga permintaan pasar yang masih belum seramai tepung lainnya. 

Ayo Menanam Sukun!

Krisis pangan ekstrem memang belum tentu terjadi, namun tidak ada salahnya kita mempersiapkan diri. Menanam satu pohon sukun untuk setiap 10 keluarga misalnya, bisa mulai dipersiapkan. Kalaupun krisis karbohidrat tidak terjadi, sukun tetap dapat dimanfaatkan sebagai salah satu bahan makanan selingan untuk kita semua.